Juli: Kesadaran a la Bis Malam

Suatu siang menjelang sore pernah ada perbincangan dengan dua kawan soal tinggi-rendah-nya daya kecanduan seseorang terhadap sesuatu. Entah itu pada bantal kesayangan, selimut, rokok, alkohol, kepada-orang-lainnya, kepada gadgetnya, kepada entah-apalagi. Saya sempat sesumbar tentang bagaimana saya tidak pernah kecanduan akan hal apapun.

Bulan Juli ini saya banyak ditampar oleh orang-orang sekitar saya. Hanya saja saya agak telat menyadarinya. Dimulai dari Mbak Adis yang hijrah ke Ibukota, karena suka atau tidak kewajibannya sebagai mahasiswa telah selesai, dan kini kewajiban sebagai seorang pekerja sudah memanggilnya. Kepergian Mbak Adis kemudian membuat saya sadar bahwa kemudian saya akan kehilangan beberapa hal, bukannya mau melebihkan, karena dengan kepergiannya itu sama saja kami di rumah atau saya kehilangan satu kawan baik yang dapat diandalkan, juga berarti kehilangan hiburan hidup dari kucing-kucingnya, Ayuk dan Jono. Tapi toh, apa guna bersedih, sudah waktunya dia pergi. Jangan terlalu lama di tempat yang sama, itu membuatmu tidak berkembang. Begitu ujar saya suatu hari pada Mbak Adis, karena saya tahu selama ini Adis tidak pernah keluar dari lingkup Magelang-Jogja-Solo, pasti hal ini sangat berat buatnya. Tapi lagi-lagi, kalau bicara saja memang mudah. Pada kenyataannya memang betul berat kalau niat hanya sekerat. Saya sadar, untuk yang pergi meninggalkan, akan terasa lebih berlipat  kehilangannya, meninggalkan ini-itu, anu-ani.

Betapa memulai kehidupan baru itu memang tidak semudah yang dikira. Tanpa disadari ketika kesedihan akan rasa kehilangan itu semakin pekat, maka saat itulah kita sadar bahwa kecanduan atau ketergantungan itu ada.

Bulan Juli lagi, keluarga saya yang mulanya menetap sekitar 10 tahun di Tangerang harus pindah ke Surabaya karena tuntutan pekerjaan Ayah saya. Suatu malam Y!M saya online, ternyata adik saya pun sedang online. Pada kesempatan itu dia bercerita panjang lebar betapa dia berat sekali untuk pindah kota. Hal ini berarti meninggalkan banyak hal, terutama teman-temannya yang dia rasa sudah sangat solid layaknya karet ban dalam, dia takut tidak bisa memulai pertemanan, takut jadi ansos, katanya, prek. Lalu dia pun ketakutan akan kehilangan 'link' pekerjaan yang selama ini dia bangun di Tangerang. Sebagai kakak yang baik dan sudah mengalami beberapa kali pindah kota dan provinsi selama 20 tahun ini, layaknya bis malam, maka saya memberinya sedikit gambaran. Termudah adalah mengatakan bahwa pindah kota itu asyik, jangan takut juga kehilangan link, kalau emang kamu bagus kamu pasti dicari. Orang gila macam apa yang mengatakan hal ini pada anak usia 17 tahun yang sedang asik-asiknya menikmati masa bersama kawanannya.

Sedikit teringat saat saya juga harus pindah kota pada usia 16 tahun 10 bulan untuk pergi kuliah. Sedih itu ketika harus meninggalkan kekasih masa SMA-mu yang mbrambangi-hampir-mbrebes-mili ketika saya mau pamit pergi. Di bayangan saya kala itu, buat apa bersedih, toh nanti saya merencanakan akan pulang tiga bulan sekali. Baru satu bulan pindah kota, kemudian kami putus. Dan saya, hanya pulang ke Tangerang kalau ada urusan administrasi birokratif. Setahun sekali, jika kamu beruntung bisa ketemu saya di Tangerang. Dan sekarang saya tidak lagi perlu pulang kesana, karena keluarga saya di Surabaya. Tapi kemudian saya ingat punya beberapa kawan baik dan mantan pacar baik hati disana, dan jika saya pulang kesana mereka selalu menyempatkan untuk bertemu saya untuk sekedar berbincang kabar dan lainnya. Saya tidak sempat berpamitan. Karena hanya dengan berpikir untuk berpamitan saja saya sudah sedih.

Tai kucing dengan istilah move on, bagi saya kata move on itu hanya memperkeruh suasana. Moving on....what? Seharusnya dipastikan, mau kemana, mau ngapain. Jangan dibiarkan tanpa jawaban, pantas saja move on dan galau itu jodoh ter-cheesy sedunia.

Bulan Juli juga menjadi saksi salah satu kawan baik saya sejak SMA, Riza, pindah ke Pulau Dewata. Pria dewasa berkepala-3 itu pergi dari Ibukota dan merencanakan untuk tinggal disana selama beberapa lama sampai cukup mengumpulkan sekantung rupiah untuk hijrah lebih jauh lagi. Kepindahannya itu pun tidak berjalan mudah. Apalagi dengan adanya kekasih yang tinggal beda kota. Been there done that. LDR is never easy, dude. HAHA! 

"Aku pernah ketergantungan apa ya? Kayanya belum ada deh yang bener-bener bisa bikin aku ketergantungan. Aku tipenya gampang 'lepas' sih. Jadi mungkin aku suka sama suatu hal, selama beberapa lama, tapi kalau memang (ngerasa) sudah (selesai atau cukup), ya sudah. Walau mungkin aja suatu saat balik lagi.", kata saya sore itu dengan mantap.

Ah, gampang 'lepas' dari mana. Mungkin saya memang belum pernah (atau belum sadar) ketergantungan akan apapun yang dapat saya lihat, pegang, rasa, dengar secara fisik. Saya memang dapat dengan mudah berhenti melakukan apapun terhadap hal-hal yang saya sukai, dan memulai hal lain lagi. Atau saya yang tidak pernah benar-benar menyukai apapun (?). Atau saya yang terlalu keras pada diri saya supaya tidak benar-benar menyukai apapun supaya saya tidak sedih jika apapun itu hilang dari diri saya (?).

Tapi kemudian saya sadar bahwa kemudian saya ini ketergantungan akan satu hal

: kenangan. 

Fisik boleh hilang, tapi kenangan tetap tersimpan. Saya mungkin tidak pernah benar-benar suka pada sesuatu, tapi kenangan saya dengan sesuatu itu lah yang benar-benar saya suka. Kenangan baik dan buruk itu selalu hidup berdampingan, suka atau tidak fungsinya menyelaraskan, menyeimbangkan hidup. Kini mereka tinggal baik-baik di dalam 'internal soft disk' kita, yang bisa dengan mudah kita panggil jika rindu, tapi tidak mudah kita buang jika tak suka. Apapun itu, berbaik hatilah pada mereka.

Tak apa melepaskan, yang dibutuhkan itu mengikhlaskan.   



*Penulis sedang tidak galau. Tapi sedang banyak dicurhati orang galau. Eaaa-nya mana?   

M. 

Comments

Popular Posts