Di Pelabuhan bag. 1


Beberapa hari lagi sudah genap tujuh tahun aku menjejakkan karirku di dunia Pelabuhan. Aku tidak menyangka bertahan selama ini. Awalnya aku hampir menolak pekerjaan ini karena kutahu pasti image dari kantor ini sungguh buruk. Berisi manusia-manusia korup, pekerjaannya hanya santai-santai, tidur, main game, pelayanan seadanya, banyak preman yang seram-seram, tindak kejahatan tinggi, tempatnya kotor, bau, macet, hadeh pokoknya seabrek hal buruk yang kamu pikirkan tentang neraka dunia disitu ada di kantorku.

Foto pertamaku di atas kapal kargo saat masa orientasi, 2013.

Awal menjalani pekerjaan ini, aku mengikuti masa orientasi, sedikit banyak kami belajar mengenai bisnis inti di dunia Pelabuhan. Masih kuingat siang itu di bulan Ramadhan, aku bersama teman seangkatanku, petugas lapangan dan satu kelompok Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) harus berjalan mengitari lapangan peti kemas untuk melakukan tally manual. Disitu kami mendata nomor-nomor yang ada di tubuh peti kemas, dan menuliskan letaknya.

Ini saat kegiatan tally-menally

“Awas mbak ada ranjau!,” teriak salah satu TKBM kepadaku.

“Defak,” ujarku. Apa yang dia bilang ranjau adalah kotoran manusia di selipan tumpukan peti kemas. Mataku langsung berkeliling mencari WC terdekat, apa memang tidak ada? Atau memang pemilik dari hadiah ini sudah kebelet banget dan memilih lokasi terdekat yakni di antara petikemas nomor HLXU 123456-7 dan HLXU 696969-6.

Itu tujuh tahun lalu.

Masa orientasiku kuhabiskan di Pelabuhan Tanjung Priok. Sampai akhirnya aku ditugaskan di Pelabuhan Boom Baru, Palembang. Wow, saat itu akan pertama kalinya aku pergi ke daratan Sumatera. Sewaktu aku mendapatkan surat tugas itu, aku bertanya kapan aku harus pergi? HRD-ku waktu itu bilang, “Besok bisa?”.

Maaf, Pak, waktu itu seluruh barang keperluanku terpisah di tiga kota. Yogyakarta, Madiun dan Jakarta. Jadi setidaknya aku butuh waktu untuk packing barang yang benar-benar kubutuhkan dan membawa serta Ibuku untuk sementara waktu.

Tidak ada seminggu kemudian aku sampai di Palembang.

Dengan ditemani driver kantor, aku direkomendasikan rumah kos. Tiga hari kemudian aku pindah ke tempat itu. Rumahnya cukup nyaman. Aku meninggali pavilion kecil berisi dua kamar yang dibagi. Ada kamar mandi ada dapur kecil. Cukuplah. Walau seingatku waktu itu tempat cuci piringnya bikin encok.

Yang banyak menemani hari-hariku selama di Palembang

Kehidupanku di kantor tidak mudah. Banyak yang heran kenapa aku ada disitu. Karena menurut standar mereka untuk anak yang baru masuk di kelasku harusnya aku ada di kantor pusat, aku pun tidak menemukan peraturannya hingga sekarang. Sepertinya banyak yang gusar kalau kursinya akan kududuki. Kupikir, apalah aku. Ilmuku masih super cetek, mana mungkin secepat itu ada yang bisa kugantikan. Alhasil aku merasa orang-orang banyak menaruh curiga kepadaku.

Di kantor itu aku ditempatkan di bagian Humas, Pemasaran dan Pelayanan Pelanggan. Oh betapa menariknya, pikirku. Sayangnya ketika aku masuk ya satu-satunya staf disitu ya cuma aku. Pekerjaannya, buanyak. Advisorku sudah masuk masa pensiun dan menurutku beliau sudah tidak optimal dalam melakukan pekerjaannya. Supervisorku juga harus membagi fokusnya dalam upayanya mendapatkan keturunan, bersekolah, menjalankan bisnis, dan menjadi pendamping yang baik. She’s an amazing multitasker.

Aku sendiri hingga sekian lama. Mencoba meraba bagaimana keluar dari kesuraman subdivisi ini. Pekerjaan Humas, Pemasaran dan Pelayanan Pelanggan, ketiganya pekerjaan berat yang amat disepelekan oleh orang-orang. Kami tidak pernah mendapatkan dukungan yang diperlukan. Dan hal ini terjadi bertaun lamanya.

Hingga akhirnya ada satu staf lagi bergabung, latar belakangnya Teknik Kimia. Iya, dia scientist on her way. Tapi diminta mikir bareng kiat pemasaran lah, postingan ini lah, press release itu, motret juga, nanganin complain pelanggan, ngurus acara ini, dan seabrek tugas lainnya.

Tapi ya namanya cobaan, doi terjatuh dari tangga dan meretakkan tulang panggulnya. Dia harus absen selama beberapa bulan lamanya untuk pemulihan.

Naik crane buat foto-foto. Hehe.. kelihatan kan jembatan Ampera-nya?
Ternyata memang seperti itu, ternyata kalau di cabang-cabang itu SDM nya sedikit, dimaksimalkan fungsinya. Dilihat  dari urgensi kebutuhan untuk fokus di cabang tersebut. Aku berpikir, mungkin waktu itu kami nggak butuh-butuh amat customer baru, toh belum ada pasar baru yang bisa dicaplok dengan kesiapan infrastruktur – suprastruktur yang kami miliki.

Yaa..

Di tempat ini aku belajar banyak. Disini pertama kalinya aku naik kapal pandu, pergi ke stasiun pandu di Tanjung Buyut, disana katanya ada beruangnya. hehe.. Juga Betapa iklim dan treatment Pelabuhan laut dan sungai itu berbeda. Selama disini, aku banyak menyaksikan perbaikan-perbaikan dan pengembangan yang terjadi.  Aku sempat menyaksikan hadirnya crane baru yang sungguh modern untuk dipakai disini. Aku sempat pergi ke proyek Pelabuhan laut yang akan kami garap. Aku menyaksikan “makam keramat” yang letaknya DI DALAM area Pelabuhan juga dirapikan untuk menjaga para pengunjung agar mereka tetap selamat.

Nggak, disini aku juga nggak nemu preman-preman serem. Ada sih preman nya pake baju rapih dan naik mobil bagus. Nggak ada kotoran manusia juga di lapangan peti kemas, adanya tingkah laku manusia yang kaya kotoran. Hehe.. 

Masuk tahun 2015 aku baru merasakan subdivisi ini bergeliat. Banyak hal-hal yang mulai bisa diarahkan. Saat itu pula aku mulai mendengar isu-isu mutasiku. Ada anak perusahaan yang ternyata ingin meminangku. Juga salah satu Direksi yang tertarik menjadikanku sekretarisnya (nggak kebayang sih kalau ini!). Dirutku waktu itu juga selalu bilang kalau ketemu aku “kamu pindah ya ke Jakarta,” atau “dua tahun lagi kamu berangkat sekolah ya,”. Keduanya kuamini. Pertama, akses Jakarta lebih enak. Kedua, kapan lagi sekolah dibayari kantor, kan?

Yang paling kencang dan di-acc Gusti Allah yang pertama.

Yang paling kurindukan dari rumah "kembaranku"

Di kota ini juga aku bertemu seorang teman, yang nampaknya di kehidupan sebelumnya kami anak kembar. Aku dan dia memiliki koneksi yang benar-benar aneh. Tidak lama kemudian aku tinggal di rumahnya. Pindah dari kosku itu. Setahun bersama, aku memutuskan pisah rumah. tinggal tiga bulanan, lalu aku pindah ke Jakarta. Nggak lama kemudian "kembaranku" ikut pindah ke Jakarta. HAHA  

Waktu itu aku punya hubungan serius juga di Jakarta. Jadi kupikir mungkin ini saatnya menetapkan diri dan memulai hidup baru. Tapi ternyata lewat juga.

Hidup baruku adalah bergabung dengan keluarga besar Sekretaris Perusahaan. Bukan, aku bukan menjadi salah satu Sekretaris Direksi. Hehe.. aku berada di tim yang sangat menyenangkan di humas (lagi) alias Public Relations, atau kalau sekarang Komunikasi Korporasi alias Corporate Communications.

Genap dua tahun, akhirnya aku pergi dari Palembang untuk memulai kehidupan baru di Jakarta, pada akhir September 2015.

Ya, empat bulan lagi genap lima tahun. Untungnya bukan KTP atau SIM yang wajib diganti. Tapi kalau mau diganti juga nggak apa-apa. Aku sih siap aja.

Tim-ku sekarang lebih dari cukup. Tim yang kuidamkan minus kurang satu desainer tambahan kali ya. Hahaha.. apakah aku bahagia di posisiku sekarang? Sangat. Walaupun mungkin pekerjaan kami lebih berat dan langsung diawasi oleh Direksi, tapi kami punya teman-teman dan atasan yang suportif.

Teman-teman satu timku ini sudah satu frekuensi. Iklim kerjanya sungguh nyaman. Well, we always fight a little, yell to each other, maybe cry a bit, laugh a ton, but that what makes us as a family, and at the end everything will be just fine. 

Jadi sedih.

Hehehe..

Karena cerita office appreciations ini cukup panjang, mungkin akan kusambung besok ya. Selamat malam, teman-teman.        

Comments

Popular Posts