Kerja Kerja Kerja

Kerja Kerja Kerja

Dua hari ini aku merasa tidak enak badan. Kepalaku sakit sekali sejak kemarin. Rasanya seperti basian hangover campuran yang nggak enak trus kepalaku kaya kebentur tembok. Ambyar. Tapi aku harus survive. Mas Bosku dirawat di rumah sakit, kemungkinan kena DBD. Bu Bos minta aku gantian nekel sedikit kerjaan belio minggu ini. Suram.

Di kantorku, di divisiku terutama, aku merasa orang-orang ngga boleh sakit, dan kalau bisa nggak cuti malah bagus. Mas Bosku itu, selama timnya udah bergantian dan mostly WFH, belio aja yang ada di kantor, waktu kutanya kenapa dia di kantor, apa nggak boleh WFH sama Bu Bos? Jawabannya, “Bukan nggak boleh, tapi aku ngga bisa,”. Aku nggak paham kenapa nggak bisa. Nah ini udah minggu kedua belio nggak masuk karena sakit.

Awal sakit minggu lalu dia cerita kalau istrinya manyun karena dia sakit. I mean, siapa yang ngga panik karena sakit disaat sekarang. Mana anak-anaknya tiga orang masih kecil-kecil. Hadeh.

Pagi ini belio ngabari kalo mondok di rumah sakit kantor. Kutanya siapa yang nganterin, dia bilang pergi sendiri naik mobil onlen. Dia cerita kalau dia menangis karena panik sendiri. Sejak minggu lalu hingga kemarin sebelum mondok diminta swab test dua kali oleh pihak rumah sakit. Khawatir memikirkan hasilnya. Tapi ternyata hasilnya negatif. Alhamdulillah. Tapi kemungkinan malah kena DBD.    

Aku memikirkan di posisinya. Sendirian. Demam. Pusing. Mual. Entah apalagi yang dirasa. Harus pergi ke dokter. Antre. Tes ini itu. Nggak tau sakit apa sudah berhari-hari belum ada kejelasan. Plus disaat rentan seperti sekarang. Memikirkan istri dan anak-anak di rumah. Bagaimana jika ini. Bagaimana jika itu. Mikirin kerjaan kantor.

Nggak enak.

Dulu pernah juga Bu Bos. Sakit, ternyata belio ada kista lumayan besar di rahimnya. Harusnya belio operasi. Aku lupa apa akhirnya dia operasi atau enggak. Aku cuma ingat di hari belio ijin harusnya masih di rumah sakit tapi udah masuk kantor. Hadeh.

Awal taun ini juga belio harus merelakan hari yang tersisa dari cuti panjangnya untuk masuk kantor lebih awal. Karena Big Boss juga tiba-tiba masuk kantor, yang harusnya, harusnya ya, masih cuti. Liburan bareng anak-anak ya harus ditinggalkan untuk balik ke Jakarta, bekerja.

Kadang aku mikir. Ya bener sih resiko jabatan dan kerjaan. Tapi… Apa ya ini yang kita cari?

Suatu hari aku ngobrol ngalor ngidul sama Mas Bos. Diam-diam aku nanya, sampean mau cari apa to kerja kaya gini? Bukan gimana, Mas Bos ini pinter banget orangnya. Dulu kerja di Bank yang independen itu, sekarang kerja di kantorku. Sekolahnya selain di Yujiem, juga di Jepang dan Inggris. Apa nggak mentereng? Kampus-kampus bagus lagi.

Tapi tahu nggak sebenernya cita-cita belio jadi apa?  

Belio mau jadi penyembuh melalui terapi listrik. Iya. Dia mau belajar menggunakan kemampuan – yang entah apa itu – menggunakan listrik dalam tubuh untuk menyembuhkan orang-orang. Absurd? Oya jelas. Tapi saya cukup mengerti. Waktu itu aku hanya manggut-manggut aja. Sambil mendoakan belio supaya lekas buka praktik.

Nah kalau Bu Bos juga diam-diam ngagetin. Suatu hari aku pergi ke rumah belio. Disana banyak lukisan. Menurutku lukisannya cantik. Dibikin dengan niat. Sapuan kuasnya juga halus. Ya ngono lah, semacam orang bisa melukis. Dan ternyata lukisan itu semua bikinan Bu Bos. Aku langsung tepuk tangan. Nggak nyangka. Mungkin sebetulnya diam-diam itu cita-citanya..

Apa sih yang kita cari?

Segitunya dibelain kerja siang malam, menghabiskan waktu lebih banyak di kantor dan memikirkan yang pusing-pusing di kantor. Kadang sampai lupa jemput anak. Iya sampai lupa jemput anak. Lupa makan. Lupa segala. Kerja kerja kerja.

Aku selalu diingatkan cerita orangtuaku, saat Ibuku depresi karena (mainly) urusan kantornya lalu Ayahku memintanya untuk mengambil opsi pensiun dini karena tidak mau Ibuku sakit dan mati. 

Jangan gitu-gitu amat ya geng. Bener kata orang, kalau kita sakit atau mati karena kerjaan, besoknya juga udah ada yang nggantiin. Tapi kalau di keluarga kita, agak susah ya nggantinya… walaupun bukan ngga mungkin. Toh fungsinya sama aja to, menggantikan peran kita? Tapi kalau memang itu tujuan hidupmu, kamu suka, dan keluarga ikhlas, ya monggo.

Comments

Popular Posts