Salam Olahraga!

Waktu manjat jembatan Arrabida di Porto 

Aku dan olahraga sepertinya memang ditakdirkan untuk tidak pernah akur. Setelah cita-citaku jadi pemain bola saat aku SMP sudah kandas, setelah itu aku tidak ingat lagi kapan aku betul-betul berolahraga. Tidak seperti ayah dan ibuku yang hingga di usia yang menginjak 54 tahun ini beliau masih aktif jogging dan bersepeda. Aku? Malas. Ya, aku malas.

Dulu aku pernah main skateboard, tapi ya main-main aja. Boro-boro kickflip. Nggak, ngga bisa. Papanku patah kelindas mobil bapakku di garasi. Sedih? Iya. Lumayan. Aku baru mengganti desain papanku jadi polkadot waktu itu. Musibah. Pantas dilindas.

Ingat waktu di Palembang pernah ikutan klub yoga. Yang ngajar jagoan banget, udah hamil gede banget tapi masih lincah dan sigap menarik-narik badanku yang mengsol-mengsol. Setelah belio cuti melahirkan, aku pindah klub, ya yang ini normal aja. Aku berhenti karena kudu pindah tugas.

Partnerku sekarang hobi banget olahraga, dia hobi banget workout. Pernah suatu hari dia mengajakku ke gym, langsung kutolak, dia bingung dan bertanya kenapa lalu kujawab “Oke, kamu nge-gym, aku workout ke foodcourt,”. Wajar. Bodinya bak dipahat maikelanjelo, iya kaya gitu, ngga pake lemak-lemak jahat. Kenceng semua. No pain no gain itu bener. Dia juga sampai bikinkan aku video tutorial workout yang ringan – seperti yang kuminta, tapi tetap saja setelah kutonton “ringan apanya, jingan!”.

Sebetulnya apartemenku dilengkapi ruang gym yang cukup oke buatku yang mager kemana-mana. Ada treadmill, ada alat untuk weight lifting juga, bisa lah arms day legs day sehari-hari. Aku sempat rutin lari di treadmill, tapi ya udah, angot-angotan. Sibuk kerja. Capek pikiran. Pengennya pulang lalu tidur aja.

Beberapa bulan lalu sebelum pandemic aku bergabung dengan klub bulutangkis di kantor. Menyenangkan, walau hanya seminggu sekali, dan baru sekitar tiga kali datang. Setelah itu gelanggang badminton-nya tutup dulu karena si cory. Sebel. Padahal aku baru beli raket. Lalu olahragaku beranjak ke jogging track di apartemen. Biasanya suka jalan cepat atau lari-lari kecil di pagi atau malam hari. Tapi ya gitu. Angot-angotan.  

Payah memang.

Tapi semenjak #DiRumahAja untuk WFH dari dua bulan lalu, berat badanku turun 5kg, aku yakin ini bukan karena aku rajin lari. Aku mencurigai karena makanan yang kukonsumsi. Seperti yang pernah kuceritakan di awal postingan, kalau aku memasak semua makananku sendiri. Dan kurasa itu sangat berpengaruh.

Bayangkan kalau di kantor, teman-temanku itu hobi makan. Dikit-dikit ada ini, dikit-dikit ada yang pesen ini, ada yang bawain kue, ada gorengan, ada snack rapat, ada nasi kebuli, ada kambing guling. Ini kantor udah kaya foodcourt. Bahaya deh kalau nggak pintar-pintar tahan godaan. Masalahnya aku cuma manusia biasa. Rela digoda. Mau digoda.
Harapanku untuk menormalkan timbanganku dengan turun 10kg lagi sepertinya hanya di angan-angan. Keinginan untuk turun berat badan nggak sebesar keinginanku untuk ngemil samosa sambil nontonin Ayang Daoming Si.  

Tapi ya, kalau dipikir-pikir aku nggak terganggu dengan postur tubuhku yang sekarang. Aku jadi tinggi-gede. Ya layaknya manusia-manusia yang ada di keluargaku – walaupun disitu aku termasuk yang “kecil” (serius deh, aku kalau pulang ke rumah orangtuaku kudu jinjit kalau mau gantung handuk di kamar mandi). Lumrah. Hehe.. hanya saja aku terganggu kalau mulai ada celana atau baju yang nggak muat. Kampret! Masa harus beli lagi?

Ya gitu geng, sambatku soal lika-liku kehidupan berolahragaku. Ambyar. Keinginan hanya keinginan. Keinginan kutinggalkan dibuaian. Salam Olahraga!

Comments

Popular Posts