Menjadi Anak Muda

Hari ini saya merasa begitu anak muda, bukan mengapa atau bagaimana melainkan setelah menghabiskan satu siang yang terasa pendek dengan menonton dua buah film. Beberapa hari yang lalu saya pergi ke Literati untuk mengembalikan majalah pada si penunggu perpus, baiknya si penunggu perpus itu memberi saya oleh-oleh berupa satu keping DVD. Tak disangka DVD itu berisi empat buah film.

Film-film tersebut adalah film dokumenter dari ABBA, lalu ada Reality Bites, Taqwacore, dan The Boat That Rocked. Mulanya, saya hanya mau mengcopy film Taqwacore, yakni sebuah dokumentasi tentang pergerakan punk-muslim. Namun, setelah membawa pulang sekeping DVD itu saya justru tertarik untuk menonton film lainnya. 

Alhasil pagi tadi sekitar pukul 11an *eh masih pagi gak sih?* saya menonton Reality Bites sebagai sarapan saya. Reality Bites (1994) yang menjadi film debut Ben Stiller sebagai sutradara. Film berdurasi hampir 100 menit ini dibintangi oleh si super manis Winona Ryder, si mas ganteng (pada masa itu) Ethan Hawke, juga Ben Stiller sendiri. 



Secara garis besarnya, film ini bercerita tentang sekawanan teman baik: Lelaina (Winona) yang terobsesi membuat video dokumenter tentang anak-anak muda yakni teman-temannya sendiri, Troy (Ethan) si musisi dan filsuf wannabe-yang cukup ngehe yang menaruh hati pada Lelaina, Vickie (Janeane Garofalo) yang hobi berganti pasangan sampai suatu ketika terkena paranoid AIDS dan Sammy (Steve Zahn) seorang gay yang ingin coming out ke keluarganya, mereka yang baru lulus ini seperti biasa terkena krisis peralihan: dari pelajar ke pekerja. Lelaina bekerja di TV - walau akhirnya dipecat karena sikapnya yang sangat impulsif, Troy bekerja serabutan sampai akhirnya terakhir dipecat dari kios koran, Vickie menjadi manajer toko GAP, dan Sammy entah jadi apa. Banyak konflik terjadi antara lain, Lelaina dan Troy ketika Michael (Ben) datang. Lelaina jatuh cinta, Troy cemburu, dan sebaliknya. Vickie yang dirundung ketakutan akan AIDS, juga Sammy yang mencoba terbuka pada keluarganya yang konservatif akan kondisinya. 

Reality Bites memanjakan mata saya akan manisnya Winona Ryder juga caemnya Ethan Hawke. Memilih film ini sebagai menu sarapan sangatlah tidak salah. Kalian harus mencobanya. Karena kemudian setelah disuguhi menu sarapan yang light dan apik ini kamu harus kembali menghadapi kenyataan yang sebenarnya.  Bagaimana bila Lelaina dan Troy pada akhirnya tidak bersama? Bagaimana bila Vickie kemudian ternyata mengidap AIDS? Bagaimana bila keluarga Sammy tidak ingin menerimanya lagi setelah tahu bahwa dia seorang gay?          

Tidak berhenti disana, sore hari setelah makan siang dan berguling kesana-kemari, saya kembali menaruh DVD itu kedalam hard drive laptop saya. Kali ini saya menonton The Boat That Rocked, mulanya saya nonton sendiri, tapi tiba-tiba pacar datang dan ikutan nonton. Tumben banget dia mau nonton film bareng saya. Nggak taunya karena temannya sudah merekomendasikan film ini: 'wah, kamu harus lihat The Boat That Rocked, kamu pasti sedih pas liat plat-nya pada tenggelam.'. 

Jadilah kami berdua menghabiskan siang menjelang sore kami dengan menonton film ini:


The Boat That Rocked (2009) bersetting tahun 1966, menceritakan pergerakan radio rock n roll di Inggris. Bagaimana represifnya pemerintah Inggris yang menentang radio pujaan rakyat yang 'melaut' di atas Samudera Atlantik itu. Cerita bermulai dari Carl (Tom Sturridge) -  yang masih muda dan terlalu manis untuk bergaul dengan para 'bajak laut' - yang dikirim oleh ibunya untuk bertemu ayah baptisnya, Quentin (Bill Nighy) yang memiliki Radio Rock tersebut. Singkatnya, kemudian Carl tinggal di atas kapal tersebut bersama kru Radio Rock. Menjalin persahabatan, melepas keperjakaan, dan mengetahui esensi dari Rock 'N Roll!

Oke, saya terburu-buru karena sedang ditunggu narsum, jadi saya harus menyudahi cerita saya tentang film ini. Yang pasti, saya menyarankan kalian untuk menonton film ini. Walau bukan karena untuk melihat ratusan piringan hitam yang tenggelam, atau melihat mas-mas rocker cute dan para wanita muda yang gila. Dan ketahuilah, walaupun ini film Rock 'N Roll, tapi tetap berasa manis sekali. Ah, saya ini apa-apa dibilang manis. Hihihi. 



Margie.

  


   

Comments

Popular Posts